Maret 13, 2012

Yang Terbaik ~6

Hari-hari terus berlalu, semenjak terjadinya hal yang cukup pahit untuk Eza, kini tiap malam terasa seperti malam yang panjang bagi remaja berusia 17tahun ini. Sering kali ia tidur larut, bukan karna sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya, melainkan karna terlalu sering memikirkan kekasihnya yang jauh di kota. 'Pasti Neta sering ketemu Nino' 'tadi juga dong?' 'kemaren juga?' 'di sekolah, mereka ngapain aja ya?' 'bercanda bareng sering kali?' 'pernah ke kantin bareng ga ya?' 'kalo makan berdua?' 'hmmmmmm apa mereka pernah jalan bareng?' 'di sms aja curhat, apalagi pas ketemu'. Semua pemikiran seperti itu sudah menjadi racun tersendiri bagi otak dan perasaannya. Tiap kali Eza teringat akan percakapan Neta & Nino, ia merasa seperti bagian kecil dari hidup Neta, dan sekedar 'permisi'. Tak jarang, karna tidur yang sering melewati jam tidur pada orang kebanyakan, Eza kesiangan. Satu waktu, pernah ia datang terlambat, bukan karna jarak dari rumah ke sekolah, atau masalah dengan sepeda tua milik kakeknya yang biasa ia gunakan, melainkan karna kebiasaan 'kalong' yang sudah menjadi rutinitasnya tiap malam.
Dan ketika itu, ia hanya diberikan peringatan, dan juga 'hadiah', yakni lari mengitari lapangan sekolahnya selama sepuluh putaran, dan berdiri di lapangan menghadap tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi. Baginya, semua 'hadiah' yang diberikan oleh sekolah belum ada apa-apanya, dibanding dengan 'hadiah' yang diberikan Neta. Bukan hadiah yang dilapisi oleh kertas kado, melainkan 'hadiah' yang belum pernah dirasakan oleh Eza sebelumnya. Eza merasa 'terharu'. Ia ingin menangis, tapi bukan air mata yang didapat, melainkan pedih.
Akhirnya waktu yang telah lama ditunggu oleh Eza pun tiba, liburan semester. Waktu yang tepat untuk bertemu dengan Neta, dan menghabiskan banyak waktu bersama.
Eza sudah memiliki rencana dari jauh hari. Ia ingin memberikan kejutan pada Neta. Pada liburan ini, Eza berencana mengunjungi Neta ke Jakarta. Dengan uang yang telah ia kumpulkan dari uang saku nya tiap hari, ia merasa memiliki ongkos yang lebih dari cukup untuk ke Jakarta. Sengaja, ia tidak memberitahukan Neta tentang rencananya ini, karna ia ingin melihat raut wajah terkejut campur senang terpancar dari wajah manis Neta.

posted from Bloggeroid