Dan ketika itu, ia hanya diberikan peringatan, dan juga 'hadiah', yakni lari mengitari lapangan sekolahnya selama sepuluh putaran, dan berdiri di lapangan menghadap tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi. Baginya, semua 'hadiah' yang diberikan oleh sekolah belum ada apa-apanya, dibanding dengan 'hadiah' yang diberikan Neta. Bukan hadiah yang dilapisi oleh kertas kado, melainkan 'hadiah' yang belum pernah dirasakan oleh Eza sebelumnya. Eza merasa 'terharu'. Ia ingin menangis, tapi bukan air mata yang didapat, melainkan pedih.
Akhirnya waktu yang telah lama ditunggu oleh Eza pun tiba, liburan semester. Waktu yang tepat untuk bertemu dengan Neta, dan menghabiskan banyak waktu bersama.
Eza sudah memiliki rencana dari jauh hari. Ia ingin memberikan kejutan pada Neta. Pada liburan ini, Eza berencana mengunjungi Neta ke Jakarta. Dengan uang yang telah ia kumpulkan dari uang saku nya tiap hari, ia merasa memiliki ongkos yang lebih dari cukup untuk ke Jakarta. Sengaja, ia tidak memberitahukan Neta tentang rencananya ini, karna ia ingin melihat raut wajah terkejut campur senang terpancar dari wajah manis Neta.
posted from Bloggeroid