"Pak! Bapak kenal anak perempuan itu?" tanya Eza dengan wajah heran. "Kenal kok, itu mah neng Neta. Dia termasuk salah satu langganan bakso saya" jawab tukang bakso dengan santainya. "Trus, yang tadi jalan di sebelahnya itu, siapa Pak??" tanya Eza dengan lebih heran. "Yang mana? laki-laki itu? Ohh, itu mah si Nino, temennya neng Neta" jelas tukang bakso yang masih menyusun bakso-baksonya.
"Hmmm bener dugaan gua.." batin Eza. "Emangnya kenapa gitu dek?" sekarang tukang bakso yang balik bertanya. "Eh, ngga apa apa kok Pak" jawab Eza yang kemudian diikuti dengan senyum. "Yeeee, adek ini, nanya terus" gumam tukang bakso. "Hehe, maaf ya Pak" saut Eza sambil beranjak dari tempat duduknya. "Oiya, makasih ya Pak!" sambungnya. Dan seketika itu juga, Eza meninggalkan tukang bakso dan berjalan menuju arah yang berlawanan dengan alamat rumah Neta. "Dek, dek, alamat yang tadi adek tanya kan ke arah sana" teriak tukang bakso dengan menunjuk ke arah jalan menuju rumah Neta. "Oh, iya Pak, makasih ya tadi alamatnya. Tapi......berhubung udah sore, mungkin saya akan pulang Pak" jelas Eza dengan senyum penuh keikhlasan. "Eh, iyaudah, hati-hati ya dek!" "Iya Pak! Assalamualaikum!" "Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatu..." jawaban salam yang terlontar dari mulut si tukang bakso. "Hmmmm padahal kan sekarang masih siang yah? Ckckck, anak jama sekarang.." gumam tukang bakso sambil melangkahkan kaki menuju gerobaknya. "Eh, ini...kan........barang yang dibawa sama pemuda tadi....KETINGGALAN!" "Dek! tunggu! ini barangnya ketinggalan!!" Teriak tukang bakso yang sontak membuat Eza berhenti dan menoleh. Tanpa pikir panjang, tukang bakso itu berlari menghampiri Eza sambil menenteng kantong plastik merah muda berisi 'special cake'. "Walah, si adek ini gimana! barang sendiri kok ditinggal gitu aja! untungnya bapak tau dan ingat kalau barang ini milik adek!" seru tukang bakso dengan wajah yang agak panik.
"Saya sengaja kok pak" jawab Eza singkat. "Sengaja?? maksud adek?" tukang bakso pun bertanya-tanya. "Iya, ini buat bapak saja.. atau mungkin, buat anak dan istri bapak yang sudah menunggu di rumah. Saya ikhlas kok Pak" jawab Eza disertai senyuman yang terpancar dari bibir tipisnya. "Eh, engga engga engga... Bapak kerja dengan halal, dan tanpa mengharap belas kasih orang lain! maaf dek, bapak ngga bisa terima" jelas tukang bakso sambil mengangkat tangannya isyarat menolak. "Duh! maaf pak.. Saya tidak bermaksud begitu... Saya cuma ingin, kue ini berguna, daripada terbuang sia-sia. Hmmmm kalo gitu, anggep aja, ini imbalan, karna Bapak tlah memberitahukan alamat itu. Gimana??" Eza yang tetap ingin memberikan 'special cake' kepada tukang bakso tersebut. Karna ia menganggap, bahwa 'special cake' itu akan sangat berguna jika ia berikan pada orang lain yang menginginkan, di banding ia buang, mengikuti setan dalam hatinya. "Kalo imbalan, akan saya terima dengan senang hati dek!" jawab tukang bakso tersebut dengan gembira. "Terimakasih ya dek!" sambung tukang bakso sambil melihat Eza yang berjalan makin menjauh......dan hilang ditelan keramaian Ibu Kota.
posted from Bloggeroid