Maret 13, 2012

Yang Terbaik ~1

"Hhhh, aku nyesel banget, kita beda sekolah╯︿╰" sms Neta ke kekasihnya, Eza, yang sudah menjalin hubungan sejak mereka berdua satu sekolah disalah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Bandung. Neta yang disuruh pindah sekolah oleh orang tua nya, sangat menyesal, akan keputusannya. Awalnya, Neta menyetujui saja apa yang dibicarakan kedua orang tuanya, tentang kepindahannya ke Jakarta karena suatu urusan pekerjaan Ayahnya. Setelah menjalani beberapa minggu di Jakarta, Neta pun akhirnya merasakan kesepian, kini ia telah terpisahkan oleh jarak dengan pacarnya, Eza, yang berada di Bandung.
"Udaah, itu kan keputusan kamu... ;)" balas Eza. "Ya tapikan, kita jadi jauh banget gini X﹏X Huh, coba aja, dulu aku lebih milih tinggal sama kakek-nenek aku, dibanding ikut mama-papa.. pastikan, ngga akan gini jadinya!" Neta menyesal. "Ck, engga apa sayaang... kita kan, masih bisa ketemu ^-^ walaupun cuma tiap liburan.. tapi kan masih bisa ketemu^°^" hibur Eza. "Hhh, iyadeh iyaa, maaf ya.. gara-gara aku, kita jadi LDR'an gini" Neta yang makin menyalahkan dirinya sendiri. "Hahaa, bukan salah kamu! ini cuma masalah keadaan! lagi juga, kita kan hanya terpisah oleh jarak, dan hati kita tetep selalu deket! ^-^" sms Eza yang kali ini bisa merubah raut wajah Neta yang semula kesal menjadi tersenyum. "Hmmmm yaudah ya, besok aku ujian nih... matematik sama kimia!-_- huh, doain aku yah, semoga besok lancar ngerjain soal-soalnya! >,< ummmm yodah, gudnait ya sayangg.. mimpi indah.... ^-^" ucapan 'selamat malam' dari Eza, yang kemudian dibalas oleh Neta. "Eh, yaaah, yauda deh... nait too sayang.. mimpi indah juga ya^^ hmmmm gudlak juga buat ujiannya... ^°^ daaaahh! ^-^" balasan dari Neta, yang mengakhiri obrolan Eza & Neta malam itu.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~2

Hari berganti hari. Konflik diantara mereka mulai sering muncul. Mulai dari masalah kecil, sampai perselisihan besar diantara mereka.
"Hhhh, maaf ya.. kayaknya, lebih baik kamu cari yang lebih baik dari aku deh... dan yang pasti lebih deket~" Eza menyadari kalau Neta tidak cocok dengan hubungan jarak jauh. "Apasih!! kamu udah yang terbaik ya buat aku! lagi juga, gampang banget nyuruh-nyuruh move on. gak segampang itu ya!" dengan kesal Neta membalas sms kekasihnya itu. "Hhhhh, yaudalah, terserah kamu... akusih, cuma ngasih saran ajah~" emosi Eza ikut terpancing. "yaudah!" balas Neta singkat.
Tidak hanya tentang hubungan mereka, masalah-masalah kecil pun bisa menjadi besar, dan berujung ke permasalahan yang biasa mereka ributkan, LDR.
Eza merasa kasihan terhadap Neta, yang hari-harinya hanya ditemani kekasihnya lewat telpon genggam. Eza menyuruh Neta untuk mencari yang lebih baik dari dirinya, tetapi Neta selalu menolaknya. Karna cinta dan sayang, merekapun terus melanjutkan hubungan jarak jauh, meski sering kali keributan menghampiri mereka.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~3

Neta, yang sudah mulai akrab dengan teman teman barunya di Jakarta, sering menceritakan hubungan cintanya ini dengan teman-temannya. Mulai dari pertemuan antara Neta & Eza yang jarang tetapi mengasyikan dan takkan dilupakan. Sampai pertentangan-pertentangan antara 2sejoli itu. Neta, remaja putri yang perasaannya sangat halus ini, sering menceritakan keadaan hubungannya dengan Eza, kepada salah satu temannya, Nino. Terlebih, tiap terjadi pertengkaran antara Neta & Eza, Neta selalu menceritakan apa yang sedang terjadi pada Nino. Dan karna merasa Neta peduli padanya, Nino pun selalu membantu Neta dengan memberikan Neta solusi.
Hampir tiap kali ada peristiwa antara Eza & Neta, Nino lah orang yang pertama kali Neta beri tau. Dan, tidak jarang, Nino pun memberikan perhatian yang lebih pada Neta. Perhatian yang bukan sekedar perhatian antara teman. Tetapi lebih dari sekedar teman biasa. Neta, dengan polosnya menganggap perhatian yang diberikan oleh Nino adalah perhatian yang biasa saja. Namun, Nino menganggap, Neta telah mengerti akan sinyal-sinyal yang diberikannya pada Neta. Dan apa yang biasa Neta lakukan pada Nino ini, sama sekali tidak diketahui oleh Eza.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~4

Satu waktu, saat liburan tiba, Neta & Eza janjian bertemu disuatu tempat yang biasa mereka kunjungi di daerah Bandung. Bisa dibilang, ini adalah tempat rahasia mereka berdua.
Setelah bercanda dan saling bercerita tentang kejadian yang mereka alami masing-masing, mereka pun saling terdiam. Sesekali beradu pandangan. Di tengah keheningan, Eza pun membuka kembali pembicaraan, "Neta, aku pinjem hp kamu dong". "Hah? buat apa?" tanya Neta. "Hmmm minjem aja.." jawab Eza dengan simpel. "Nih!" seru Neta yang sambil menyodorkan handphone-nya ke arah Eza. "Tapi aku juga pinjem hp kamu!" sambung Neta sambil menarik kembali handphone-nya. "Iya iyaa... Nih!". Eza dan Neta pun saling bertukar handphone. Neta melihat-lihat isi galeri di handphone-nya Eza, yang siapa tau ada foto cewek lain selain dirinya. Dan ternyata, hanya foto-foto Neta sajalah, yang terdapat di handphone-nya Eza. Sedangkan Eza, setelah melihat foto-fotonya Neta, ia bermaksud mengirimkan foto-foto itu dari handphone Neta ke handphone Eza. Setelah berhasil mengirimkan foto-foto Neta, ia tidak tau, ingin berbuat apa lagi dengan handphone-nya Neta. Sekedar iseng, Eza membuka pesan di handphone-nya Neta. Dan di situ, ia melihat pesan-pesan dari Nino yang belum dihapus oleh Neta. Karna penasaran, Eza pun membuka pesan dari Nino, dan membaca semua percakapan antara Neta & Nino. Eza terdiam, sambil membaca dan menggerakkan ibu jarinya untuk memindahkan dari satu pesan ke pesan yang lain. Eza masih terdiam dan tak bisa berkata. Sesekali ia melirik Neta, yang sedang asyik memainkan handphone milik Eza. Eza merasa terpukul. Hatinya merasakan sakit yang amat sangat. Ia tidak ingin Neta mengetahui apa yang terjadi padanya.
Setelah membaca semua pesan dari Nino, Eza menyerahkan kembali handphone-nya Neta. Dan mereka pun kembali bertukar handphone. Eza masih tetap diam. Ada rasa sakit yang belum pernah ia rasakan. Rasa sakit yang cukup hebat!
Sore telah menjelang, matahari sudah ingin bertukar tempat dengan bulan. Neta & Eza pun akhirnya beranjak. Mereka segera kembali ke rumah Eza menggunakan sepeda tua milik kakeknya Eza. Disepanjang jalan, mereka tak henti-hentinya bercanda, hampir sesekali Eza kehilangan keseimbangan. Walaupun mereka berdua terlihat bahagia, tapi tidak dengan apa yang dirasakan oleh Eza. Ia menyembunyikan apa yang ia rasakan di depan Neta. Senyum dibalik Kesedihan.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~5

Sampai di rumah Eza, ternyata orang tua Neta telah menunggu Neta untuk menjemputnya pulang. "Papah....Mamah......!" teriak Neta dari teras rumah sambil berlari dan kemudian memeluk kedua orang tua nya itu dari belakang. Disusul Eza yang berjalan masuk ke rumah, yang masih menyembunyikan perasaannya. "Om...Tante....." sapa Eza kepada kedua orang tua Neta dan tidak lupa mencium tangan mereka.
Setelah terjadi perbincangan yang cukup lama antara keluarga Neta & keluarga Eza, Neta dan orang tua nya pun izin pulang ke Jakarta. Saat ingin berpisah dengan Neta pun, Eza masih juga menyembunyikan apa yang ia rasakan dibalik senyum ikhlasnya, ikhlas merelakan Nino menggantikan posisinya di hati Neta....

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~6

Hari-hari terus berlalu, semenjak terjadinya hal yang cukup pahit untuk Eza, kini tiap malam terasa seperti malam yang panjang bagi remaja berusia 17tahun ini. Sering kali ia tidur larut, bukan karna sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya, melainkan karna terlalu sering memikirkan kekasihnya yang jauh di kota. 'Pasti Neta sering ketemu Nino' 'tadi juga dong?' 'kemaren juga?' 'di sekolah, mereka ngapain aja ya?' 'bercanda bareng sering kali?' 'pernah ke kantin bareng ga ya?' 'kalo makan berdua?' 'hmmmmmm apa mereka pernah jalan bareng?' 'di sms aja curhat, apalagi pas ketemu'. Semua pemikiran seperti itu sudah menjadi racun tersendiri bagi otak dan perasaannya. Tiap kali Eza teringat akan percakapan Neta & Nino, ia merasa seperti bagian kecil dari hidup Neta, dan sekedar 'permisi'. Tak jarang, karna tidur yang sering melewati jam tidur pada orang kebanyakan, Eza kesiangan. Satu waktu, pernah ia datang terlambat, bukan karna jarak dari rumah ke sekolah, atau masalah dengan sepeda tua milik kakeknya yang biasa ia gunakan, melainkan karna kebiasaan 'kalong' yang sudah menjadi rutinitasnya tiap malam.
Dan ketika itu, ia hanya diberikan peringatan, dan juga 'hadiah', yakni lari mengitari lapangan sekolahnya selama sepuluh putaran, dan berdiri di lapangan menghadap tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi. Baginya, semua 'hadiah' yang diberikan oleh sekolah belum ada apa-apanya, dibanding dengan 'hadiah' yang diberikan Neta. Bukan hadiah yang dilapisi oleh kertas kado, melainkan 'hadiah' yang belum pernah dirasakan oleh Eza sebelumnya. Eza merasa 'terharu'. Ia ingin menangis, tapi bukan air mata yang didapat, melainkan pedih.
Akhirnya waktu yang telah lama ditunggu oleh Eza pun tiba, liburan semester. Waktu yang tepat untuk bertemu dengan Neta, dan menghabiskan banyak waktu bersama.
Eza sudah memiliki rencana dari jauh hari. Ia ingin memberikan kejutan pada Neta. Pada liburan ini, Eza berencana mengunjungi Neta ke Jakarta. Dengan uang yang telah ia kumpulkan dari uang saku nya tiap hari, ia merasa memiliki ongkos yang lebih dari cukup untuk ke Jakarta. Sengaja, ia tidak memberitahukan Neta tentang rencananya ini, karna ia ingin melihat raut wajah terkejut campur senang terpancar dari wajah manis Neta.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~7

Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, dan dengan alasan menginap di rumah teman, Eza pun memberanikan dirinya ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan perempuan yang sudah memberikan warna dikehidupannya. Dengan menggunakan travel, ia menuju ke Jakarta. Memang, cukup mahal, Eza pun sudah memikirkannya, namun berapapun rupiah yang keluar dari kantongnya tak menjadi masalah, asalkan itu bisa membuat Neta tersenyum bahagia.
Sepanjang perjalanan, Eza sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan bersama Neta, nanti. Mulai dari melihat ekspresi wajah Neta yang terkejut , apa yang akan mereka bicarakan, jalan berdua, makan siang bareng, nonton film romantis, sampai akhirnya mengecup pipi kanan Neta. Eza sudah tak sabar.
Sampailah akhirnya ia di tempat pemberhentian travel tersebut. Hanya bermodalkan alamat yang pernah diberikan oleh Neta, Eza mulai mencari alamat rumah Neta, dengan bertanya-tanya pada orang-orang yang sedang lewat sekitar situ. Dan Eza pun menemukan arah menuju jalan ke rumah Neta. Karna Eza masih belum menemukan arah pasti, ia pun mencarinya dengan berjalan kaki sambil kembali bertanya-tanya pada orang lewat atau pedagang kaki lima.
Ketika ia melewati jejeran pertokoan, ia melihat satu toko kue, yang tidak begitu besar, juga tidak terlalu kecil. Toko kue yang cukup sederhana. Tampak dari depan terlihat cake yang sangat indah, bentuknya simpel, namun krim putih yang dipadu dengan campuran toping kuning dan merah muda lah yang membuatnya nampak sangat menawan, dan tidak ingin dimakan. Eza yang melihat kue itu, memiliki pikiran, bahwa ia akan memberikannya sebagai hadiah kejutan. Setelah membayar 'special cake', Eza pun keluar toko kue tersebut, dan melanjutkan pencariannya.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~8

Terlihat dari jauh pedagang baksou sedang berdiri didekat gerobaknya sambil merapikan dagangannya. Dengan semangat, Eza langsung menuju ke tukang bakso itu. Karena menurutnya, tukang bakso itu mengenal betul daerah sini, dan tau dimana rumah Neta.
Sambil menenteng plastik berisi 'special cake', Eza menghampiri tukang bakso dan bertanya, "Pak, maaf, tau alamat ini gak?" sambil menyodorkan secarik kertas pada tukang bakso tersebut. "Ooh, ini.... saya tau! biasanya saya kalo jualan lewat jalan ini" jawab tukang bakso. "Hmmm kalo dari sini kemana Pak?" tanya Eza sambil clingak clinguk memperhatikan jalan sekitar. "Dari sini, ke sana tuh!" jawab tukang bakso dengan tangan yang menunjuk ke arah jalan yang sedang dilewati oleh dua orang pejalan kaki lainnya. "Eh, itu kan.........Neta? dan di sebelah nya............" batin Eza bertanya-tanya sambil keheranan. "Trus ada gapura, belok kanan dek!" jelas tukang bakso yang masih sibuk memberitahukan arah jalan pada Eza. "Hmmmmm Pak, ini bakso satu porsinya berapa ya?" tanya Eza sambil berjalan ke belakang gerobak bakso, dengan tujuan agar tidak terlihat oleh Neta. "Yaa tergantung sih dek, satu porsi besar, apa porsi kecil" jelas tukang bakso. "Oooh, gitu ya Pak.." jawab Eza sambil mengangguk dengan mata yang terus melihat ke arah Neta & temannya. "Emang kenapa, adek mau beli?" tanya tukang bakso. "Eh? hehe, engga kok Pak, cuma nanya aja" jawab Eza sambil cengar cengir. "Yeee, si adek, kirain mah mau beli, ga tau nya cuma nanya doang!" seru tukang bakso sambil kembali merapikan dagangannya. Eza masih tertunduk di balik gerobak bakso sambil sesekali memperhatikan Neta & temannya.
"Hahahaha, bisa aja lo bang!" canda Neta dengan teman yang di sebelahnya. "Eh, misi Pak!" sapa Neta pada tukang bakso yang sedang menyusun bakso-baksonya itu dengan rapih. "Ehh, iya neng, silahkan.." jawab tukang bakso sambil tersenyum. Neta dan temannya pun berlalu dari depan gerobak bakso yang digunakan Eza untuk bersembunyi.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~9

"Pak! Bapak kenal anak perempuan itu?" tanya Eza dengan wajah heran. "Kenal kok, itu mah neng Neta. Dia termasuk salah satu langganan bakso saya" jawab tukang bakso dengan santainya. "Trus, yang tadi jalan di sebelahnya itu, siapa Pak??" tanya Eza dengan lebih heran. "Yang mana? laki-laki itu? Ohh, itu mah si Nino, temennya neng Neta" jelas tukang bakso yang masih menyusun bakso-baksonya.
"Hmmm bener dugaan gua.." batin Eza. "Emangnya kenapa gitu dek?" sekarang tukang bakso yang balik bertanya. "Eh, ngga apa apa kok Pak" jawab Eza yang kemudian diikuti dengan senyum. "Yeeee, adek ini, nanya terus" gumam tukang bakso. "Hehe, maaf ya Pak" saut Eza sambil beranjak dari tempat duduknya. "Oiya, makasih ya Pak!" sambungnya. Dan seketika itu juga, Eza meninggalkan tukang bakso dan berjalan menuju arah yang berlawanan dengan alamat rumah Neta. "Dek, dek, alamat yang tadi adek tanya kan ke arah sana" teriak tukang bakso dengan menunjuk ke arah jalan menuju rumah Neta. "Oh, iya Pak, makasih ya tadi alamatnya. Tapi......berhubung udah sore, mungkin saya akan pulang Pak" jelas Eza dengan senyum penuh keikhlasan. "Eh, iyaudah, hati-hati ya dek!" "Iya Pak! Assalamualaikum!" "Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatu..." jawaban salam yang terlontar dari mulut si tukang bakso. "Hmmmm padahal kan sekarang masih siang yah? Ckckck, anak jama sekarang.." gumam tukang bakso sambil melangkahkan kaki menuju gerobaknya. "Eh, ini...kan........barang yang dibawa sama pemuda tadi....KETINGGALAN!" "Dek! tunggu! ini barangnya ketinggalan!!" Teriak tukang bakso yang sontak membuat Eza berhenti dan menoleh. Tanpa pikir panjang, tukang bakso itu berlari menghampiri Eza sambil menenteng kantong plastik merah muda berisi 'special cake'. "Walah, si adek ini gimana! barang sendiri kok ditinggal gitu aja! untungnya bapak tau dan ingat kalau barang ini milik adek!" seru tukang bakso dengan wajah yang agak panik.
"Saya sengaja kok pak" jawab Eza singkat. "Sengaja?? maksud adek?" tukang bakso pun bertanya-tanya. "Iya, ini buat bapak saja.. atau mungkin, buat anak dan istri bapak yang sudah menunggu di rumah. Saya ikhlas kok Pak" jawab Eza disertai senyuman yang terpancar dari bibir tipisnya. "Eh, engga engga engga... Bapak kerja dengan halal, dan tanpa mengharap belas kasih orang lain! maaf dek, bapak ngga bisa terima" jelas tukang bakso sambil mengangkat tangannya isyarat menolak. "Duh! maaf pak.. Saya tidak bermaksud begitu... Saya cuma ingin, kue ini berguna, daripada terbuang sia-sia. Hmmmm kalo gitu, anggep aja, ini imbalan, karna Bapak tlah memberitahukan alamat itu. Gimana??" Eza yang tetap ingin memberikan 'special cake' kepada tukang bakso tersebut. Karna ia menganggap, bahwa 'special cake' itu akan sangat berguna jika ia berikan pada orang lain yang menginginkan, di banding ia buang, mengikuti setan dalam hatinya. "Kalo imbalan, akan saya terima dengan senang hati dek!" jawab tukang bakso tersebut dengan gembira. "Terimakasih ya dek!" sambung tukang bakso sambil melihat Eza yang berjalan makin menjauh......dan hilang ditelan keramaian Ibu Kota.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~10

Kini, tinggal ia sendiri, di trotoar sudut kota, bercahayakan lampu-lampu pertokoan, berjalan, tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa seseorang yang setia menemaninya selama ±3 tahun.

Pernahkah kau merasa.. Jarak antara kita...
Kini smakin terasa.. Setelah kau kenal dia....
Aku tiada percaya.. Teganya kau putuskan...
Indahnya cinta kita.. Yang tak ingin ku akhiri....

Kau pergi..... Tinggalkan ku....

Tak pernahkah kau sadari, aku lah yang kau sakiti...
Engkau pergi dengan janjimu yanh telah kau ingkari..
Oh Tuhan tolonglah aku, hapuskan rasa cintaku...
Akupun ingin bahagia walau tak bersama dia......


Meskipun begitu, Neta tetaplah menjadi bagian dari hidup Eza, yang tak akan pernah mungkin tergantikan....

posted from Bloggeroid