Mei 13, 2014

Risk is Risk

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu! (ga jawab salam dosa)
Ya, selamat malam untuk para pembaca yang membaca ini pada malam hari
Selamat pagi untuk para pembaca yang membaca ini pada pagi hari
Dan selamat menahan rindu yang tak terbalas untuk para pembaca yang membaca ini pada saat kangen-kangennya cuma situ yang ngerasain tapi dia enggak. Yak, I know what you feel sob!

Oke, malam ini gua akan bercerita sedikit serius, ya, sedikit. Tapi ini beneran kok. Dari sumber yang dipercaya. Tentang 'tragedi' yang mungkin beberapa dari kita ada yang tau, dan beberapa dari kita ada yang baru tau. Termasuk gua.
Mungkin banyak dari kalian tau tentang penembakkan-penembakkan yang sering terjadi di daerah timur Indonesia. Ya, Irian. Atau yang biasa disebut Papua. Tepatnya di Papua bagian timur, dan lebih tepatnya lagi di puncak. Entah puncak apa namanya gua gatau. Tapi yang jelas bukan puncak bogor.
Sekali lagi gua tekankan berita/info ini gua denger dari sumber yang sangat amat terpercaya. Langsung. Dan baru tadi siang diceritain

Jadi, begini, waktu itu, tepatnya hari Jumat tanggal 18 April 2014, sekitar jam setengah1 siang abis solat jumat (waktu Indonesia timur), salah satu dari 5 pos di puncak jaya itu dihujani peluru alias ditembakki. Sekedar info aja, letak kelima pos itu berada di tengah-tengah hutan. Dan jarak pos yang satu ke pos lain itu sekitar 4kilometer-an lah. Dengan jalanan yang sangat amat tidak mendukung juga pos pos di puncak jaya itu jarang dilewati oleh orang-orang (yaiyalah ditengah-tengah hutan siapa juga yang mau lewat). Didatangi sama orang aja jarang, ya begitu pula sama sinyal. Sama sekali ga ada sinyal. Jadi untuk berkabar dari pos satu ke pos yang lain, mereka menggunakan radio. Begitu pula untuk ngasih kabar ke luar. Dan untuk info lagi, pos pos itu dibuat atau ditempatkan di puncak, selain untuk pengamanan, dibuat juga untuk membantu warga sekitar daerah puncak jaya itu sendiri.
Kembali ke tragedi. Sesaat sebelum penembakkan terjadi, para penjaga pos yang berisikan 21orang tentara itu sedang bersantai gitu lah. Namanya juga abis solat Jumat gitu kan. Dan ketika penembakkan itu terjadi, mereka langsung panik. Ya, pasti.
Dan asal tembakkan itu bukan cuma dari bukit dibelakang pos. Tapi juga dari bukit sebelah kiri pos, dan juga dari jurang disebelah kanan pos. Dikepung? Ya bisa dibilang seperti itu.
Para penjaga di pos itu membalas tembakkan atau tidak? Gua nggak tau sampe situ. Karna gua sibuk mendengarkan dan mendeskripsikan sendiri gambaran dari apa yang diceritakan salah satu prajurit di pos itu.
Serda R-T. Nama salah satu prajurit yang menjadi saksi mata sekaligus orang yang terlibat di kejadian itu menceritakan pengalamannya ini di salah satu rumah sakit di Jakarta. Kenapa di rumah sakit? Dan kenapa dia di Jakarta? Oke, lanjut.

Kak R-T dan salah satu temannya yang posisinya berada di depan kak R-T (yang saat itu posisi mereka sedang menghadap ke arah bukit yang di belakang pos) ini berusaha menghindar dari amunisi-amunisi yang menghujani pos mereka. Naas. Teman kak R-T yang berada di depan terkena amunisi, dan amunisi itu menembus punggungnya. Kak R-T yang berada di belakangnya pun segera memeluk beliau ini. Dan ketika kak R-T meraba mata sebelah kirinya, dan menyadari, mata dan tangan yang merabanya itu sudah berlumuran darah. Entah pecahan dari amunisi, atau pecahan kayu yang terkena tembakkan, mengenai bola mata dan sekitar mata kiri kak R-T.

Kak R-T terdiam dari ceritanya, dan gua juga cuma bisa terdiam membayangkan kejadian ketika itu sambil memandang perban yang membalut sekitar mata kiri kak R-T. Gua nggak tau apa yang selanjutnya terjadi. Tapi gua memberanikan diri untuk bertanya, 'dan yang tertembak itu tewas di tempat?'. Lalu kak R-T melanjutkan ceritanya. Ternyata saat dipeluk, temannya itu masih bertahan. Namun ketika diperjalanan untuk diselamatkan, takdir berkata lain, Alm. Serda R
(teman kak R-T yang tertembak tadi) sudah dipanggil terlebih dahulu oleh Yang Maha Kuasa. Beliau kehabisan darah.
Dan satu jam kemudian berita ini langsung menyebar diberbagai media. Untuk yang menonton berita pada tanggal 18 april 2014, sore hari, mungkin mengetahui berita ini. Kalo ada yang belum tau, bisa di search sendiri di google.

Dan foto yang gua cantumkan ini, adalah foto mereka berdua. Diambil sekitar 1tahun yang lalu. Yang sebelah kiri (yang mengenakan kupluk hitam dan menenteng senjata didepan) adalah kak R-T. Yang sebelah kanan (yang mengenakan kupluk loreng dengan pose miring dan menenteng senjata dibelakang) adalah almarhum. Dan menurut kerabat almarhum, almarhum adalah orang yang ramah pada siapapun. Bahkan kepada bawahan/juniornya jika melakukan kesalahan hanya ditegur oleh beliau, tidak di pukul, di tendang, atau bertindak kasar yang lainnya. Dan kepada warga sekitar pos pun, beliau juga ramah.

Dan kak R-T juga tadi cerita ke gua. Kalo 1 minggu sebelum tragedi, teman kak R-T yang lain sempat cerita, menceritakan mimpi yang dialaminya. Kalo di mimpi itu, teman kak R-T ini melihat 1 peti mati di pos, dan di peti mati itu bertuliskan huruf R. Dan yang namanya berawalkan huruf R hanya kak R-T dan almarhum R. Kak R-T juga menceritakan mimpi temannya itu ke teman-temannya yang lain. Termasuk ke almarhum. Namun almarhum hanya berkata, "ya kalo ajalku sudah disini, ya sudah, tinggal pulang nama sajalah".

Selamat Jalan dan Selamat Beristirahat dengan tenang Putra Terbaik Bangsa! :)
Dan untuk seluruh TNI yang menjaga keamanan NKRI ini, Allah selalu bersama kalian!

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatu



14-5-'14

Maret 13, 2012

Yang Terbaik ~1

"Hhhh, aku nyesel banget, kita beda sekolah╯︿╰" sms Neta ke kekasihnya, Eza, yang sudah menjalin hubungan sejak mereka berdua satu sekolah disalah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Bandung. Neta yang disuruh pindah sekolah oleh orang tua nya, sangat menyesal, akan keputusannya. Awalnya, Neta menyetujui saja apa yang dibicarakan kedua orang tuanya, tentang kepindahannya ke Jakarta karena suatu urusan pekerjaan Ayahnya. Setelah menjalani beberapa minggu di Jakarta, Neta pun akhirnya merasakan kesepian, kini ia telah terpisahkan oleh jarak dengan pacarnya, Eza, yang berada di Bandung.
"Udaah, itu kan keputusan kamu... ;)" balas Eza. "Ya tapikan, kita jadi jauh banget gini X﹏X Huh, coba aja, dulu aku lebih milih tinggal sama kakek-nenek aku, dibanding ikut mama-papa.. pastikan, ngga akan gini jadinya!" Neta menyesal. "Ck, engga apa sayaang... kita kan, masih bisa ketemu ^-^ walaupun cuma tiap liburan.. tapi kan masih bisa ketemu^°^" hibur Eza. "Hhh, iyadeh iyaa, maaf ya.. gara-gara aku, kita jadi LDR'an gini" Neta yang makin menyalahkan dirinya sendiri. "Hahaa, bukan salah kamu! ini cuma masalah keadaan! lagi juga, kita kan hanya terpisah oleh jarak, dan hati kita tetep selalu deket! ^-^" sms Eza yang kali ini bisa merubah raut wajah Neta yang semula kesal menjadi tersenyum. "Hmmmm yaudah ya, besok aku ujian nih... matematik sama kimia!-_- huh, doain aku yah, semoga besok lancar ngerjain soal-soalnya! >,< ummmm yodah, gudnait ya sayangg.. mimpi indah.... ^-^" ucapan 'selamat malam' dari Eza, yang kemudian dibalas oleh Neta. "Eh, yaaah, yauda deh... nait too sayang.. mimpi indah juga ya^^ hmmmm gudlak juga buat ujiannya... ^°^ daaaahh! ^-^" balasan dari Neta, yang mengakhiri obrolan Eza & Neta malam itu.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~2

Hari berganti hari. Konflik diantara mereka mulai sering muncul. Mulai dari masalah kecil, sampai perselisihan besar diantara mereka.
"Hhhh, maaf ya.. kayaknya, lebih baik kamu cari yang lebih baik dari aku deh... dan yang pasti lebih deket~" Eza menyadari kalau Neta tidak cocok dengan hubungan jarak jauh. "Apasih!! kamu udah yang terbaik ya buat aku! lagi juga, gampang banget nyuruh-nyuruh move on. gak segampang itu ya!" dengan kesal Neta membalas sms kekasihnya itu. "Hhhhh, yaudalah, terserah kamu... akusih, cuma ngasih saran ajah~" emosi Eza ikut terpancing. "yaudah!" balas Neta singkat.
Tidak hanya tentang hubungan mereka, masalah-masalah kecil pun bisa menjadi besar, dan berujung ke permasalahan yang biasa mereka ributkan, LDR.
Eza merasa kasihan terhadap Neta, yang hari-harinya hanya ditemani kekasihnya lewat telpon genggam. Eza menyuruh Neta untuk mencari yang lebih baik dari dirinya, tetapi Neta selalu menolaknya. Karna cinta dan sayang, merekapun terus melanjutkan hubungan jarak jauh, meski sering kali keributan menghampiri mereka.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~3

Neta, yang sudah mulai akrab dengan teman teman barunya di Jakarta, sering menceritakan hubungan cintanya ini dengan teman-temannya. Mulai dari pertemuan antara Neta & Eza yang jarang tetapi mengasyikan dan takkan dilupakan. Sampai pertentangan-pertentangan antara 2sejoli itu. Neta, remaja putri yang perasaannya sangat halus ini, sering menceritakan keadaan hubungannya dengan Eza, kepada salah satu temannya, Nino. Terlebih, tiap terjadi pertengkaran antara Neta & Eza, Neta selalu menceritakan apa yang sedang terjadi pada Nino. Dan karna merasa Neta peduli padanya, Nino pun selalu membantu Neta dengan memberikan Neta solusi.
Hampir tiap kali ada peristiwa antara Eza & Neta, Nino lah orang yang pertama kali Neta beri tau. Dan, tidak jarang, Nino pun memberikan perhatian yang lebih pada Neta. Perhatian yang bukan sekedar perhatian antara teman. Tetapi lebih dari sekedar teman biasa. Neta, dengan polosnya menganggap perhatian yang diberikan oleh Nino adalah perhatian yang biasa saja. Namun, Nino menganggap, Neta telah mengerti akan sinyal-sinyal yang diberikannya pada Neta. Dan apa yang biasa Neta lakukan pada Nino ini, sama sekali tidak diketahui oleh Eza.

posted from Bloggeroid

Yang Terbaik ~4

Satu waktu, saat liburan tiba, Neta & Eza janjian bertemu disuatu tempat yang biasa mereka kunjungi di daerah Bandung. Bisa dibilang, ini adalah tempat rahasia mereka berdua.
Setelah bercanda dan saling bercerita tentang kejadian yang mereka alami masing-masing, mereka pun saling terdiam. Sesekali beradu pandangan. Di tengah keheningan, Eza pun membuka kembali pembicaraan, "Neta, aku pinjem hp kamu dong". "Hah? buat apa?" tanya Neta. "Hmmm minjem aja.." jawab Eza dengan simpel. "Nih!" seru Neta yang sambil menyodorkan handphone-nya ke arah Eza. "Tapi aku juga pinjem hp kamu!" sambung Neta sambil menarik kembali handphone-nya. "Iya iyaa... Nih!". Eza dan Neta pun saling bertukar handphone. Neta melihat-lihat isi galeri di handphone-nya Eza, yang siapa tau ada foto cewek lain selain dirinya. Dan ternyata, hanya foto-foto Neta sajalah, yang terdapat di handphone-nya Eza. Sedangkan Eza, setelah melihat foto-fotonya Neta, ia bermaksud mengirimkan foto-foto itu dari handphone Neta ke handphone Eza. Setelah berhasil mengirimkan foto-foto Neta, ia tidak tau, ingin berbuat apa lagi dengan handphone-nya Neta. Sekedar iseng, Eza membuka pesan di handphone-nya Neta. Dan di situ, ia melihat pesan-pesan dari Nino yang belum dihapus oleh Neta. Karna penasaran, Eza pun membuka pesan dari Nino, dan membaca semua percakapan antara Neta & Nino. Eza terdiam, sambil membaca dan menggerakkan ibu jarinya untuk memindahkan dari satu pesan ke pesan yang lain. Eza masih terdiam dan tak bisa berkata. Sesekali ia melirik Neta, yang sedang asyik memainkan handphone milik Eza. Eza merasa terpukul. Hatinya merasakan sakit yang amat sangat. Ia tidak ingin Neta mengetahui apa yang terjadi padanya.
Setelah membaca semua pesan dari Nino, Eza menyerahkan kembali handphone-nya Neta. Dan mereka pun kembali bertukar handphone. Eza masih tetap diam. Ada rasa sakit yang belum pernah ia rasakan. Rasa sakit yang cukup hebat!
Sore telah menjelang, matahari sudah ingin bertukar tempat dengan bulan. Neta & Eza pun akhirnya beranjak. Mereka segera kembali ke rumah Eza menggunakan sepeda tua milik kakeknya Eza. Disepanjang jalan, mereka tak henti-hentinya bercanda, hampir sesekali Eza kehilangan keseimbangan. Walaupun mereka berdua terlihat bahagia, tapi tidak dengan apa yang dirasakan oleh Eza. Ia menyembunyikan apa yang ia rasakan di depan Neta. Senyum dibalik Kesedihan.

posted from Bloggeroid